Senin, 18 Juli 2011

PEDOMAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK


I.     PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Pertanian merupakan suatu bidang kegiatan usaha yang tidak akan lepas dari kehidupan manusia dan alam, sebab secara hirarkhi di ekosistem beberapa komponen kehidupan membentuk mata rantai yang saling mempengaruhi. Terputusnya salah satu mata rantai tersebut akan mengakibatkan atau berpengaruh terhadap kelangsungan makhluk hidup yang lain sehingga harus dilestarikan.
Manusia sebagai pengelola dan sekaligus sebagai pengguna (konsumen) produk pertanian merupakan komponen yang selalu aktif mengadakan eksploitasi lahan sawah dalam proses budida tanaman dengan input teknologi penggunaan bahan kimia dan bahan an-organik lainya yang sulit dirombak, misalnya untuk meningkatkan hasil suatu produk pertanian dalam proses budidaya tanaman menggunakan pestisida untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), zat pengatur tumbuh untuk merangsang pembelahan sel atau meningkatkan aktifitas auxin sehingga pertumhuhan dapat optimal, penggunaan pupuk anorganik yang mudah didapat dan mudah aplikasinya sebagai penyedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Hasil yang diperoleh dari usahatani demikian apabila diperhatikan sekilas memang bagus, baik kuali­tas maupun kuantitasnya, tetapi jika kita kaji lebih mendalam, ternyata dibalik keherhasilan tersebut terdapat suatu kerugian yang tidak kalah besarnya, yaitu adanya pencemaran lingkungan dan produk pertanian, pemutusan mata rantai kehidupan, penurunan tingkat kesuburan tanah serta sifat fisik tanah sebagai akibat perlakuan di atas.
Efek residu dari penggunaan pestisida antara lain dapat mencemari tanah disertai matinya beberapa organisme perombak tanah, mematikan serangga dan binatang lain yang mungkin sebenarnya binatang tersebut dapat bermanfaat bagi kita sehingga terputusnya rantai makanan bagi hewan pemakan serangga hama.  Efek negatif yang berkepanjangan pada suatu areal pertanian akan menurunkan produktifitas lahan itu sendiri.  Dengan demikian tujuan yang semula untuk memaksimalisasi produktivtas lahan pertanian justru terbalik, bahkan akan menjadikan bumerang bagi kita.


 








Hal lain yang tidak kalah menariknya untuk kita renungkan adalah bahan aktif pestisida yang tertinggal pada tanaman yang akan dikonsurnsi dapat meracuni kita dan akan terakumulasi di dalam tubuh, maka tidak heran banyak gejala penyakit yang salah satu penyebabnya adalah bahan kimia tersebut, misainya kanker, radang, penyakit kulit dan lain-lain bahkan ada yang teracuni langsung, yaitu orang mengkonsumsi komponen tanaman (buah, daun, bunga, umbi dan lain-lain) yang jelas-jelas masih mengandung pestisida.
Aspek lain yang yang sering menjadi bahan eksploitasi adalah tanah, padahal tanah merupakan salah satu faktor dari 4 faktor utama yang mempengaruhi hasil tanaman, karena tanah selain berfungsi sebagai media tumbuh bagi tanaman juga berfungsi sebagai sistem kehidupan yang penting untuk berproduksi secara biologi, mengikat banyak air, udara dan nutrisi dalam menciptakan dan menjaga kesehatan tanaman.
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya penurunan kulaitas tanah tersebut, antara lain:   a) Penanaman monokultur secara terus menerus, b) Peningkatan IP 300 yang memungkinkan tanah tidak  mengalami  istirahat, c) Penggunaan pupuk buatan yang berlebihan tanpa diimbangi pupuk organik, sehingga tanah menjadi miskin bahan organik,                d) Penggunaan pestisida yang berlebihan sehingga keseimbangan biota tanah terganggu.  Agar fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan dengan baik, ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan, yaitu kesehatan tanah secara fisik, kimia maupun biologi.  Secara umum kondisi tanah, baik dilihat dari faktor fisik, kimia maupun biologi setiap musim tanam kualitas tanah terus menurun dan keadaannya sudah mengkhawatirkan.  Hal tersebut dapat dirasakan dan dibuktikan, antara lain tanah menjadi keras dan padat, bidang olah dangkal, aerasi di dalam tanah menurun, mikroorganisme dalam tanah berkurang, pecahnya permukaan tanah pada musim kemarau dan cepat terjadi run off atau banjir di musim hujan, sehingga provitas padi sawah makin lama makin turun dan terjadi levelling off atau peningkatan produksi yang menurun.
Dari beberapa penyebab tadi apabila tidak dilakukan upaya secara sistematis dan berkelanjutan, bukan hal yang mustahil kondisi tanah di Jawa Barat akan menjadi lahan tandus.  Sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki kesehatan tanah adalah meningkatkan kandungan bahan organik tanah sehingga kandungan bahan organik tanah berada pada taraf 3% - 5%, karena bahan organik dapat berperan dalam meningkatkan kemampuan tanah menjerap air, meningkatkan kemampuan tanah menjerap nutrisi, memperbaiki aerasi tanah, sumber unsur hara tanaman yang lengkap, sumber energi dan media hidup mokroorganisme tanah, dan memperbaiki warna tanah
Saat ini untuk pemenuhan kebutuhan pangan dari sektor pertanian mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan lingkungan dan keuntungan ekonomi. Salah satu teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan dan telah kita laksanakan adalah Pertanian Organik, khususnya Pertanian padi Organik.  Pertanian Padi Organik merupakan suatu tekhnologi budidaya padi yang pada penerapannya disesuaikan dengan keadaan lingkungan, agar tidak terjadi perubahan ekosistem secara drastis sehingga tidak menggangu dan memutuskan mata rantai makhluk hidup. 

1.2    Tujuan
Tujuan utama pertanian padi organik, antara lain :
a)                Menghasilkan pangan, khususnya beras yang  berkualitas tinggi, bebas residu pestisida, residu pupuk kimia organik sistetik, dan bahan kimia lainnya untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat
b)                Melindungi dan melestarikan keragaman hayati agar dapat berfungsi secara alami dalam mempertahankan interaksi di ekosistem pertanian sesuai sistem alami
c)                Memasyarakatkan kembali budidaya organik untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan guna menunjang sistem usahatani yang berkelanjutan
d)                Mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan sarana produksi dari luar yang harganya mahal dan berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga petani dapat memperhitungkan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan pertanian organik dan pengolahannya
e)                Mendorong meningkatnya siklus biologi dalam sistem usahatani dengan melibatkan tanah, tanaman, ternak, flora dan fauna dalam ekosistem
f)                   Mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang secara berkelanjutan
g)                Efisiensi penggunaan air
h)                Memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya alam secara lokalita untuk mendukung sistem pertanian organik
i)                    Mengembangkan keseimbangan yang harmonis antara produksi pertanian dan peternakan

 






II.   PENGERTIAN DAN  BATASAN PERTANIAN PADI ORGANIK

2.1    Pengertian Pertanian Padi Organik
Pertanian Padi Organik adalah kegiatan usahatani padi secara menyeluruh dari proses produksi sampai proses pengolahan hasil yang dikelola secara alami dan ramah lingkungan tanpa penggunaan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetik sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi.

2.2    Batasan Pertanian Padi Organik
Sistem usahatani bisa dikatagorikan pertanian organik apabila :
a.     Lokasi, lahan dan tempat penyimpanan harus terpisah secara fisik dengan batas alami dari pertanian non organik.
b.     Masa konversi lahan dari pertanian padi non organik menjadi pertanian padi organik diperlukan waktu minimal 12 bulan.
c.     Bahan tanaman ( Benih/bibit) bukan berasal dari hasil rekayasa genetika dan tidak diperlakukan dengan bahan kimia sintetik ataupun zat pengatur tumbuh.
d.     Media tumbuh tidak menggunakan bahan kimia sintetik
e.     Perlindungan tanaman tidak menggunakan bahan kimia sintetik, tapi berupa pengaturan sistem tanam/pola tanam , pestisida nabati, agens hayati dan bahan alami lainnya.
f.        Pengelolaan produk harus terpisah dari produk non organik dan tidak menggunakan bahan yang mengandung additive.



III.  PROSPEK PERTANIAN PADI ORGANIK
Prospek pertanian padi organik di masa mendatang mempunyai peluang usaha yang sangat baik dan cerah, karena secara faktual ketersediaan lahan cenderung menurun, kesadaran konsumen untuk menkonsumsi sumber makanan yang sehat dan bergizi semakin meningkat.  Kesadaran konsumen bukan hanya memperhatikan porsi yang ideal serta makanan yang baik dan sehat saja akan tetapi turut memperhatikan dan peduli tentang suatu proses produksi dan damp­ak-dampaknya.
Hasil produksi dari pertanian organik ternyata lebih bermutu dibanding dengan budidaya pertanian biasa. Beberapa kriteria yang mempunyai nilai lebih antara lain rasa lebih enak, lebih awet disimpan, warnanya lebih menarik dan pasti lebih sehat karena tidak mengandung residu bahan-bahan kimia.
Produk pertanian yang tidak mengandung residu bahan kimia berbahaya disukai konsumen saat ini dan masa mendatang, karena masyarakat yang telah memahami tentang kesehatan akan memilih dan mengkonsumsi makanan yang tidak merugikan kesehatannya.
Dalam proses penerapan budidaya pertanian padi organik memang agak sulit dibandingkan dengan budidaya biasa yang menggunakan bahan kimia (anorganik).  Untuk itu orang yang akan mengembangkan pertanian padi organik harus mempunyai jiwa juang yang ulet serta mencintai lingkungan.  Mempunyai kemauan untuk mengenal alam dimana prosess budidaya pertanian padi organic dilaksanakan, mengembangkan cara-cara bertani yang sesuai dengan keadaan alam setempat, mengenali dan mengembangkan sumber-sumber daya yang ada di tempat itu. 
Hal yang tidak kalah pentingnya dalan penerapan pertanian padi organik adalah pemahaman tentang makhluk hidup dalam hubungannya dengan lingkungan, sehingga  mutlak dituntut kejelian dan ketelitian dalam setiap pengambilan keputusan serta tindakan di lahan usahataninya.  Sistem usahatani yang cocok untuk daerah tertentu belum tentu cocok untuk daerah lainnya, karena berkaitan dengan varietas yang ditanam akan sangat dipengaruhi oleh jenis dan kesuburan tanah, suhu, kelembaban, serta intensitas cahaya matahari.   Selain itu jenis hama dan penyakit yang berkembang akan ditentukan oleh varietas yang ditanam, perlakuan budidaya dan pengaruh lingkungan setempat, sehingga kita harus menyesuai­kan keadaan setempat untuk menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan tumbuhan, binatang, mikroorganisme, tanah, udara dan unsur-unsur yang lainnya.



IV.   PENERAPAN PERTANIAN PADI ORGANIK

Proses belajar dalam pelaksanaan kegiatan Penerapan Pertanian Padi Organik didukung dengan fasilitasi kegiatan Sekolah Lapangan (SL) bagi petani peserta dan Demonstrasi Penerapan Pertanian Padi Organik pada lahan seluas 10 ha di masing-masing kelompok tani.

4.1     Sekolah Lapangan (SL)
Sekolah Lapangan merupakan metode belajar yang dirasakan epektif bagi petani karena mengacu pada beberapa prinsip dasar, anatara lain :

a.  Belajar dari pengalaman
Proses belajar di mulai dari penghayatan langsung melalui pengamatan agroekosistem, kemudian pengungkapan pengalaman, pengkajian hasil pengalaman, dan pengambilan kesimpulan
b.  Partisipatoris
Pemandu dan warga belajar melakukan kerjasama yang harmonis dalam setiap proses kegiatan

c.  Demokrasi
Pemandu dan warga belajar mempunyai hak, kewajiban, kedudukan yang sama dalam proses kegiatan

d.  Lahan sebagai sarana utama dalam belajar
Lahan usahatani merupakan sebuah ekosistem pertanian, terjadi proses interaksi antar unsur- unsur  ekosistem.  Oleh karena itu proses belajar hampir 80 % dilakukan di lahan usahatani.

Pola penyelenggaraan kegiatan sekolah lapangan pertanian padi organik seperti gambar di bawah ini :


 











Setiap kelompok tani melakukan demonstrasi budidaya pertanian padi organik pada lahan seluas 10 Ha.  Pada lahan 10 Ha ditentukan lahan seluas 1 Ha sebagai Laboratorium Lapangan (LL) sebagai media belajar penghayatan perkembangan agroekostem padi organik selama 1 musim tanam.
Tujuan dilaksanakannya penerapan pertanian padi organik dengan pendekatan sekolah lapangan adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penerepan teknologi pertanian padi organic secara spesifik lokalita
b. Secara bertahap proses budidaya pertanian organik dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani sesuai dengan keadaan setempat
 
Sekolah lapangan diselenggarakan selama 1 musim tanam (12 kali pertemuan dan 1 kali temu lapangan).  Selama 1 musim tanam, petani peserta dan pemandu bersama-sama mempelajari dan menganalisis perkembangan agroekosistem secara berkala/ mingguan sebagai dasar untuk mengambil keputusan tindakan yang akan dilaksanakan dalam proses budidaya tanaman. 
Gambaran agroekosistem yang dalam keadaan seimbang adalah seperti gambar di bawah ini


 











4.2     Demonstrasi Penerapan Pertanian Padi organik

4.2.1  Metode Demonstrasi
Lahan Demonstrasi Penerapan Pertanian Padi Organik merupakan salah satu fasilitas dalam proses belajar yang sangat menentukan. Lahan yang digunakan adalah lahan milik petani/ kelompok tani peserta yang lokasi dan tata letaknya sesuai persyaratan suatu petak demontrasi.  Luas lahan demonstrasi di masing-masing kelompok tani seluas ± 10 Ha yang dikelola bersama oleh seluruh anggota kelompok tani terutama yang menjadi peserta sekolah lapangan. 
Perlakuan demonstrasi penerapan budidaya pertanian padi organik sesuai ketentuan/syarat-syarat penerapan pertanian organik yang mengacu ke Sistem of Rice Intensification (SRI).  Dari sistem tersebut dalam aplikasinya di tingkat lapangan sesuai dengan keadaan/kebutuhan di masing-masing lokasi.

4.2.2  Komponen Teknologi SRI
Proses budidaya padi organik melalui pendekatan system SRI melalui penerapan teknologi hasil kajian yang telah dilaksanakan di berbagai lokasi pada beberapa musim tanam dengan mengacu pada pengelolaan komponen utama agroekosistem, yaitu :


 










Adapun komponen teknologi system SRI adalah sebagai berikut :
a.   Pemilihan Varietas Unggul
Varietas yang dipilih merupakan varietas unggul yang sesuai di masing-masing lokasi yang mempunyai daya hasil tinggi, umur grnjah, serta toleran terhadap hama dan penyakit.
b.   Penggunaan Benih Bermutu
Benih bermutu tinggi adalah benih yang kemurnian dan daya kecambah lebih besar dari 90%.  Selain itu benih yang akan disebar/ditanam harus dilakukan seleksi melalui perendaman pada larutan air garam dapur 3% (atau apabila telur ayam dimasukkan pada larutan air garam terapung, maka garam yang dilarutkan pada air telah cukup).
Perendaman benih pada larutan garam dimaksudkan untuk memperoleh benih yang bernas, ditandai dengan tenggelamnya benih pada larutan air garam.  Perendaman jangan lebih dari 15 menit agar tidak terjadi salinitas yang dapat mengakibatkan kerusakan pada lembaga dan benih yang tenggelam segera dibilas dengan air bersih.
c.   Pesemaian
Pesemaian dibuat sesuai dengan kebutuhan dan pola/sistem tanam  yang akan digunakan yaitu :
-          Pesemaian dilakukan pada baki/pipiti/bak kecil terbuat dari kayu atau di lapangan







-          Benih : 7 – 10 Kg/ha, benih bukan berasal dari hasil rekayasa genetika dan tidak diperlakukan dengan bahan kimia sintetik ataupun zat pengatur tumbuh dan bahan lain yang mengandung additive.
-          Media : campuran tanah dengan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 1
-          Umur pesemaian 7 – 10 HSS

d.   Pengolahan Lahan dan Pemupukan
·         Pengolahan tanah dilakukan sebayak 3 kali,  yaitu pembajakan, penggaruan, dan perataan tanah (ngangler). Setelah pembajakan selesai, pupuk organik ditaburkan secara merata dengan dosis rata-rata 7.000 kg/ha (5 – 10 ton/ha) atau sesuai kebutuhan setempat berdasarkan analisis tanah dan analisis pupuk. Pupuk organik diberikan pada saat pengolahan tanah ke II dan pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang bukan berasal dari kotoran ayam ras, tapi merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan organik (bokasi).
·         Pada saat dilakukan penggaruan dan pertaan tanah (ngangler) keadaan air macak-macak harus dipertahankan (pintu pemasukan dan pengeluaran air ditutup) agar tanah dan unsur hara tidak terbawa hanyut.
·         Setelah selesai perataan tanah dibuat saluran air tengah dan saluran air pinggir di sekeliling pematang, dan dilakukan pencaplakan untuk pengaturan jarak tanam.





e.   Penanaman dan Penyulamam
Penanaman disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing lokasi, seperti :
-          Umur benih : 7 – 10 HSS (benih muda)
-          Jumlah tanam/lubang : 1 batang/tunas
-          Jarak tanam disesuaikan dengan kebutuhan setempat (20 cm x 20 cm, 22,5 cm x 22,5 cm, 25 cm x 25 cm, dst)

Untuk memudahkan dalam pemeliharaan, menekan persaingan unsur hara dan cahaya, dianjurkan menggunakan tanam sistem legowo      2 : 1, 3 : 1 atau  4 : 1.
Penyulaman dilakukan apabila terdapat tanaman yang mati atau terkserang OPT yang bersifat sistemik (virus) dengan menggunakan varietas dan umur yang sama (tanaman cadangan).

f.     Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman yang sangat penting diperhatikan adalah pemberian air, penyiangan, dan pengendalian OPT.
·         Pemberian air
Pemberian air harus diatur dengan menggunakan saluran pengairan keliling pematang dan saluaran bedengan sehingga keadaan tanah tidak tergenang, tapi hanya lembab dengan tujuan menghemat air, memberikan kesempatan pada akar untuk mendapatkan udara (O2) sehingga dapat berkembang lebih dalam, mencegah terjadinya keracunan besi (Fe), dan mencegah penimbunan asam organik dan H2S yang dapat menghambat perkembangan akar.
Pengaturan pemberian air dilakukan dengan cara pemberian air berselang (intermittent), yaitu sebagai berikut :
FASE  PERTANAMAN
PEMBERIAN AIR
Pesemaian (7 0- 10 Hari)
Lembab
Pengolahan Tanah
Macak-macak
Pertumbuhan ( ± 70 hari)
Lembab
Penyiangan ( 3 – 5 kali)
Digenang (1 – 3 cm)
Pembungaan ( ± 30 hari)
Digenang (1 – 3 cm)
Pemasakan ( ± 15 hari)
Dikeringkan

·         Penyiangan
Penyiangan dilakukan sesuai kebutuhan agar tidak terjadi kompetisi anatara gulma dengan tanaman.
·         Pengendalian OPT
Pengendalian OPT tidak menggunakan bahan kimia sintetik, tapi berupa pengaturan sistem budidaya, pestisida nabati, agens hayati dan bahan alami lainnya.
Khusus untuk pestisida dan agens hayati di bahas lebih lanjut pada BAB V.

g.   Panen
Pengelolaan produk harus dipisah dari produk non organik dan tidak menggunakan bahan yang mengandung additive.







V.        SARANA UTAMA PENERAPAN PERTANIAN PADI ORGANIK

5. 1     Pupuk Organik
5.1.1   Jenis Pupuk Organik dan Teknologi Pembuatan Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan alami yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dan dirombak dengan bantuan microorganisme dekomposer seperti bakteri dan cendawan menjadi unsur-unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses perombakan bahan organik menjadi pupuk organik itu dapat berlangsung secara alami atau buatan.
Penggunaan pupuk organik dalam proses budidaya tanaman sudah dilakukan sejak dulu oleh nenek moyang kita, baik secara sengaja seperti pemanfaatan kotoran ternak/pupuk kandang atau secara tidak sengaja, yaitu adanya seresah yang tertimbun dan akhirnya menjadi humus.  Proses alami yang terjadi sebagai anugrah, terus dipelajari dan dilaksanakan pengembangan teknologi sehingga prosesnya menjadi lebih cepat bila dibandingkan berjalan murni secara alami.
Bukan suatu teknologi yang tertinggal apabila kita meninjau kembali adanya komponen-komponen organik sehagai bahan bahan yang dapat membantu memperbaiki ekosistem pertanian, justru merupakan suatu tantangan dan kewajiban bagi kita untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah terjadi. Adanya pengolahan dan pengembalian sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lainnya menjadi substrat penyusun tanah dengan cara pembuatan pupuk-pupuk organik, adalah langkah yang mulia dalam proses kehidupan manusia.
 Penambahan pupuk organik pada sistem pertanian organik adalah sangat penting karena dapat memperbaiki sifat fisik tanah (stuktur dan tekstur tanah), sifat kimia tanah (sumber paling utama tersedianya hara tanah, karena unsur hara yang terkandung jenisnya lengkap), juga dapat dapat memperbaiki sifat biologi tanah (media hidup mikroorganisme tanah yang bermanfaat).
Secara umum Peranan/Fungsi Pupuk Organik, adalah sebagai berikut :
·         Meningkatkan kemampuan tanah menjerap air
·         Meningkatkan kemampuan tanah menjerap nutrisi
·         Memperbaiki aerasi tanah
·         Sumber unsur hara tanaman yang lengkap
·         Sumber energi dan media hidup mokroorganisme tanah
·         Memperbaiki warna tanah

Pupuk organik dapat berupa pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk cair biasanya berupa air saringan dari pupuk padat, dimaksudkan agar penggunaannya lehih mudah tidak mengandung kotoran dan sekaligus untuk menjaga kelembaban tanah.  Pupuk padat dapat berupa pupuk hijau, pupuk seresah, kompos, maupun pupuk kandang. Kesemuanya adalah berpengaruh positif terhadap tanah, jika pemberiannya setelah pupuk itu matang.

A.  PUPUK ORGANIK PADAT (KERING) 
1.  Pupuk Hijau
Pupuk hijau merupakan pupuk yang bahannya berasal dari tanaman atau komponen tanaman yang dibenamkan ke dalam tanah. Jenis tanaman yang banyak digunakan dan memang lebih baik kuali­tasnya dibanding tanaman lain adalah jenis/familia Leguminoceae. Jenis tanaman tersebut mengandung unsur hara yang lehih baik, terutama unsur Nitrogen dibanding tanaman lain.  Jenis tanaman leguminosa mempunyai daya serap hara yang lebih besar dan mempunyai bintil akar. Di dalam metabolismenya bersimbiosis dengan bakteri Rhizobi­um yang dapat mengikat unsur nitrogen dari udara. 
Keuntungan yang didapat jika menggunakan pupuk hijau :
a. Mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta infiltrasi air.
b.  Mencegah adanya erosi
c.   Sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang sulit dijangkau untuk suplai pupuk anorganik.
d. Manfaat lain spesies pupuk hijau dapat dijadikan sebagai pakan ternak, kayu bakar bahkan sebagai makanan manusia.

Syarat-syarat tanaman pupuk hijau yang akan di pilih adalah sebagai berikut :
·         Menghasilkan banyak biomas.
·         Dapat menekan dan mengendalikan gulma.
·         Prosentase produksi daun lebih besar dari pada bagian yang berkayu.
·         Mempunyai kemampuan kemampuan mengikat nitrogennya tinggi dan melepaskan nutrisi pada tanah.
·         Berumur pendek, cepat tumbuh, mempunyai kemampuan megakumulasi hara.
Tanaman yang berfungsi sebagai pupuk hijau, selain tanaman kacang-kacangan/polong-polongan, jenis rumput-rumputan ( rumput gajah ), dan Azolla juga baik sebagai bahan pupuk hijau. Tanaman pupuk hijau yang cocok ditanam pada lahan pematang tanaman padi maupun lahan-lahan yang kosong, sedangkan Azolla adalah merupakan jenis tanaman pakuan air yang hidup di perairan.  Seperti halnya tanaman leguminosae, Azolla mampu menambat N2 udara karena berasosiasi dengan sianobakteri (Anabaena azollae) yang hidup di dalam rongga daun Azolla.  Menurut Khan (1983), kemampuan Azolla mengikat N2 dari udara berkisar antara 400 – 500 kg N/ha/tahun.
Azolla berkembang Sangat cepat dan dapat meghasilkan     biomassa     sebanyak     10-15 ton/ha
Sumber : BPTP Lembang, 2007

dengan C/N ratio 12 – 18, sehingga dalam waktu satu minggu Azolla telah terdekomposisi dengan sempurna.

Cara pembuatan pupuk dari pupuk hijau :
Gali tanah sebagai tempat bakal pupuk yang ukurannya disesuaikan dengan volume bahan yang akan dipendam. Pupuk hijau dibiarkan di dalam tanah kurang lebih empat minggu atau menunggu pupuk benar-benar sudah siap dipakai. Untuk mempercepat proses pembusukan sebaiknya bahan dicincang kecil-kecil.

2.  Pupuk Kompos.
Pupuk kompos merupakan pupuk yang bahannya berasal dari pemanfaatan limbah atau komponen tanaman yang sudah tidak terpakai, misalnya jerami kering, bonggot jerami, rumput tebasan, tongkol jagung, dan lain­lain­
Pada teknis pembuatan pupuk dari serasah memerlukan bio activator untuk mengoptimalkan peran mikroorganisme decomposer agar proses perombakan berjalan cepat, kotoran ternak dan hijauan sebagai bahan tambahan. Selain itu kotoran ternak setelah terinku­basi merupakan bahan yang mengandung banyak unsur hara.
Sumber pupuk organik yang berasal dari jerami padi sangat baik untuk dikelola dan dimanfaatkan di lahan sawah, sehingga tidak berlebihan apabila ada petani yang membakar jerami di sawahnya merupakan tindakan yang sangat keliru karena akan terjadi proses pentandusan tanah secara perlahan.  Kandungan hara yang terdapat pada jerami, antara lain seperti pada tabel di bawah ini.
[[[[[[[





Langkah-langkah dalam proses pembuatan pupuk organik yang bahan baku utamanya dari serasah dimaulai dari perbanyakan bio activator, selanjutnya beru pelaksanaan pembuatan pupuk organic kompos dari bahan serasah tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1)           Proses perbanyakan mikroorganisme pengurai/ perombak bahan organik

a.     Bahan yang diperlukan :
·         1 kg dedak halus
·         2 ons terasi
·         2,5 ons gula
·         2 liter nira atau 2 liter air kelapa
·         liter air bersih

b.     Alat yang diperlukan
·         Ember plastik ukuran 10 liter
·         Kain kassa/saringan
·         ½ m Plastik
c.     Cara Perbanyakan
·         Nira/air kelapa diangin-anginkan ditempat teduh selama 3 hari
·         Terasi dilarutkan dengan air panas sebanyak 1 liter
·         Gula dan dedak dicampur , masukkan 2 liter air panas kemudian diaduk
·         Campurkan no1 dan no 2, biarkan sampai dingin
·         Masukkan air nira/air kelapa pada campuran no 1 dan no 2 yang telah dingin kemudian diaduk sampai rata
·         Tutup rapat dengan plastik dan simpan di tempat teduh, setiap 2 hari diaduk kemudian tutup yang rapat
·         Setelah 5-7 hari proses sudah selesai , dengan tanda campuran berbusa dan bau asam  
·         Saring dan simpan pada zerigen yang bersih

2)   Proses pembuatan pupuk organik
a.   Bahan yang diperlukan :
·         60 % Jerami
·         20 % kotoran khewan
·         10 % serbuk gergaji/sekam
·         10 % bahan lain yang tersedia di tempat             ( Daun Kipait, Kirinyuh, dll.)
·         1 kg dedak halus untuk setiap M kubik bahan
·         Air
·         Tanah

  1.  Alat yang diperlukan
·         Ember plastik
·         Golok
·         Cangkul garpu

c.   Cara Pembuatan :
·         Buatlah pembatas dari kayu atau batang pisang denga ukuran : tinggi 1 m, panjang dan lebar disesuaikan dengan kebutuhan
·         Buatlah larutan mikroorganisme hasil perbanyakan dengan perbandingan 250 cc (1 Gelas ) untuk 20 liter air
·         Potong- potong jerami dengan ukuran panjang 10-20 cm
·         Campurkan semua bahan menjadi satu sambil disiram sehingga basahnya merata
·         Tumpuklah bahan tadi pada tempat yang disediakan secara bertahap dan setiap tahap tingginya 25 cm
·         Setiap tahapan ditaburi dedak halus sebanyak ¼ kg, kemudian disemprot/disirami larutan mikroorganisme sebanyak 5 liter.
·         Lakukan tahapan tadi sampai mencapai 4 tahap         ( tinggi 1 m )
·         Tahapan terakhir ditutup dengan tanah setebal 3–5 cm.
·         Akan lebih baik apabila diberi naungan.
·         Hal yang perlu diperhatikan agar proses kompos berjalan baik adalah kelembaban diupayakan tetap 60% dan suhu 300 C, apabila kering dan panas segera disiram.

3.  Pupuk Kandang
Pada penerapan pertanian organik, penggunaan pupuk kandang merupakan manifestasi dari penggabungan peternakan dan pertanian yang sekaligus merupakan persyaratan mutlak atau dasar untuk konsep pertanian organik. Tingkat besarnya peternakan atau prosentase antara peternakan dan pertanian tidakah terikat.  Hanya saja pada areal pertanian organik yang jauh dari keberadaan pupuk kandang, mestinya harus diperhitungkan seberapa banyak dan jenis ternak apa yang harus dipelihara.  Selain hal tersebut ada juga alternatif lain yaitu menggunakan jenis pupuk-pupuk organik yang lain.
Pupuk kandang dapat diperoleh dari ternak sapi, kerbau, kambing, babi, ayam dan binatang lainnya. Pupuk kandang mempunyai beberapa sifat-sifat yang lebih baik dibanding pupuk organik lainnya, antara lain :

a.  Pupuk kandang merupakan humus hasil proses degradasi sisa-sisa tanaman dan hewan, terdiri dari zat organik yang mengalami pelapukan. Humus yang terbentuk dapat memperbaiki struktur tanah sehingga tanah mudah diolah dan sirkulasi udara menjadi lebih baik sehingga ketersediaan O2 di tanah lebih terjamin. Hasil percobaan menunjukan bahwa penambahan pupuk kandang yang meningkat akan meningkatkan kesuburan dan produktivitas tanaman. Selain itu tanah akan lebih banyak menahan air dan unsur hara yang berada akan terlarut dan mudah diserap oleh tanaman.

b. Pupuk kandang merupakan sumber unsur hara makro maupun mikro yang dalam keadaan seimbang Unsur Makro seperti N, P, K Ca dan lain-lain sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur mikro yang tidak terdapat pada pupuk lain, tersedia dalam pupuk kandang misalnya Mn, Co, Br dan lain-lain.

c.   Pupuk kandang banyak mengandung mikroorganisme yang berfungsi sebagai penghancur sampah-sampah sehinga menjadi humus dalam tanah.  Mikroorganisme juga dapat mensintesa senyawa-senyawa tertentu yang sangat berguna bagi tanaman, sehingga pupuk kandang merupakan suatu pupuk yang sangat diperlukan bagi tanah dan tanaman.

Prosentase kandungan unsur dalam pupuk kandang bermacam-macam, karena dipengaruhi oleh jenis ternak, jenis makanan ternak, dan fungsi ternak sendiri (sebagai pekerja, pedaging, perah dan lain-lain), sehingga hasil penelitian para ahlipun kadang-kadang berbeda-­beda.  Kandungan hara
pupuk kandang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.  

Jenis ternak
% air
BO
N%
P205
K20
CaO
C/N ratio
Kambing
64
31
0,7
0,4
0,25
0,4
20 - 25
Ayam
57
29
1,5
1,3
0,8
4,0
9- 11
Babi
78
17
0,5
0,4
0,4
0,07
19-20
Kuda
73
22
0,5
0,25
0,3
0,2
24
Sumber : Saifudin Sarief.

Sedangkan kandungan unsur hara dari urine ternak yang adalah sebagai berikut :
Jenis  ternak
% air
BO
N%
PZ05
K20
CaO %
Sapi
92
4,8
1,21
0,01
1,35
1,35
Kerbau
81
-
0,6
sedikit
61
sedikit
Kambing
86,3
9,3
1,47
0,05
1,96
0,16
Babi
96,6
1,5
0,38
0,10
0,99
0,20
Kuda
89,6,
8,0
1,29
0,01
1,39
0,45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar